Manusia tak bisa memilih untuk dilahirkan dalam hidup yang seperti
apa. Namun mensyukuri dan memperjuangkan masa depan adalah pilihan kita semua.
Perkenalkan saya Asep Sanjaya, seorang anak kedua dari tiga bersaudara. Papah
dan Mamah, begitu saya memanggil mereka, adalah sosok yang luar biasa.
Berpendidikan akhir STM dan SMP bukanlah alasan mereka untuk berani bermimpi
besar untuk anak-anaknya kelak. Menjadi putra satu-satunya dalam keluarga ini
membuat saya mendapat tanggung jawab besar, terutama terhadap dua saudari saya.
Kakak saya memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliah dikarenakan lebih memfokuskan
dirinya untuk menopang ekonomi keluarga. Saat itu Papah saya sedang dalam posisi
sebagai karyawan di sebuah perusahaan swasta yang tak lama setelahnya mendapat
surat PHK dan tak lagi bekerja karena usianya yang hampir menginjak kepala 6.
Saya, sebagai putra satu-satunya, menjadi harapan besar dari masa depan
keluarga ini. Takdir pun bersambut dengan diterimanya saya sebagai mahasiswa di
universitas negeri melalui jalur undangan. Keluarga saya, terutama Papah,
memiliki harapan yang besar atas perbaikan kehidupan keluarga ini dari anak
laki satu-satunya.
Menjadi mahasiswa tentunya sebuah anugerah luar biasa bagi saya.
Masuk dalam jurusan Pendidikan Agama Islam yang merupakan minat saya sejak
dulu, rasanya semakin menambah semangat dalam menjalani kehidupan dalam kampus
ini. Di dalam kampus saya dikenalkan dengan dunia organisasi, surganya para
aktivis. Saya aktif dalam menjalani kehidupan organisasi terutama dalam BEM. Di
BEM ranah spesialisasi yang saya ambil adalah dalam bidang pengkaderan. Menyelaraskan
akademik dengan tetap berkontribusi aktif dalam ranah organisasi kampus adalah
hal yang cukup menantang, terlebih dalam organisasi pemerintahan mahasiswa
seperti BEM. Namun dari semua itulah jiwa dan pengalaman saya terasah. Membaktikan
diri sebagai pelayan dan fasilitator bagi civitas akademika prodi merupakan
langkah awal yang saya tempuh dalam hajat mengejar mimpi-mimpi besar saya di
depan.
Dalam menjalani kehidupan perkuliahan, akademik merupakan salah
satu hal sentral yang sekaligus prioritas. Anugerah berkesempatan kuliah di
Universitas Negeri Jakarta adalah sesuatu yang tidak boleh disia-siakan. Untuk
itu saya mempersiapkan diri dengan terus menggali keilmuan saya, khususnya
dalam bidang sosial dan keagamaan, untuk menjawab tantangan masa yang akan
datang. Untuk itu sekarang ini saya masih terus berusaha memenuhi kapabilitas
ideal tersebut dengan giat mengikuti seminar-seminar, maupun forum-forum
diskusi, baik formal mau pun non formal. Saya juga sedang mempersiapkan diri menjadi
mahasiswa berprestasi sebagai wujud rasa syukur diamanahkannya saya sebagai
mahasiswa di kampus pergerakan intelektual ini. Berbagai perlombaan telah coba
saya ikuti semata-mata untuk menambah pengalaman dan kemampuan soft skill
yang tak didapat di dalam ruang-ruang kelas. Saya juga mencoba memperdalam kemampuan
public speaking yang memang telah lama saya geluti, sembari mengaktifkan
kepekaan sosial lewat kegiatan-kegiatan pengabdian masyarakat. Pengabdian dalam
bentuk kegiatan bakti sosial, mau pun dalam pendidikan anak-anak yang kurang beruntung
secara finansial telah membuat saya sadar akan tugas-tugas nyata yang harus
saya wujudkan untuk masa depan bangsa dan negara yang lebih baik.
Sebagai generasi muda penerus bangsa, Saya selalu terpanggil untuk
menjawab tantangan-tantangan bangsa ke depan. Saya berusaha mengikuti perkembangan
yang terjadi serta ingin menjawab tantangan generasi muda dalam hakikatnya yang
akan menyongsong bonus demografi di tahun 2020. Bonus demografi adalah anugerah
dan peluang besar bagi bangsa kita untuk mengubah nasibnya. Indonesia dengan
jumlah penduduk produktifnya nanti haruslah mampu menjawab tantangan zaman. Sebagai
seseorang yang memiliki pengalaman dalam dunia teknologi dan informasi, saya
juga melihat besarnya potensi yang akan diperoleh bangsa ini dari revolusi
industri 4.0 dan ini menjadi hal yang akan saya lakukan. Mensintesakan antar
pengetahuan sosial keagamaan dengan kecanggihan teknologi adalah hal yang akan
saya lakukan. Saya akan berikan solusi dari tantangan kerusakan moral yang
dihadapi bangsa di era milenial ini, dengan sebuah jawaban berupa rancang
bangun sistem aplikasi. Platform perangkat mobile yang menjadi
barang primer hari ini adalah alasan mengapa perubahan ini akan dapat dilakukan.
Sistem aplikasi yang dibangun nantinya adalah aplikasi multi fitur yang
nantinya diperuntukkan untuk secara bertahap mengubah arah kebobrokan menjadi
kebanggan. Langkah penerapan perbaikan moral ini tentunya akan dikembalikan
pada pendekatan agama yang bisa dikembangkan di sekolah-sekolah. Selain bidang
pendidikan, era baru 4.0 juga menarik saya untuk ikut berkontribusi membangun
perekonomian kreatif melalui video kreatif dan bisnis daring. Kesemua itu
adalah langkah saya sebagai generasi muda dalam membangun bangsa yang akan
menyongsong hajat-hajat besarnya di tahun kebangkitan bonus demografi dan era
baru revolusi industri.
Komentar
Posting Komentar